SWARAJATIM.COM/LUMAJANG – Jangan remehkan sekolah yang berada di lereng Semeru. Dari SMKN Senduro Lumajang, lahir sebuah inovasi sederhana namun fungsional.
Siswa jurusan Teknik Kendaraan Ringan (TKR) berhasil membuat FOPPO (Fogging Portable), alat fogging ringan yang dirancang untuk membantu mengusir nyamuk dan mendukung pengendalian jentik serta nyamuk di lingkungan masyarakat.
Menariknya, alat tersebut bukan produk jadi yang tinggal digunakan. Komponen FOPPO dipilih, dibuat, dirakit, dan dikembangkan sendiri oleh para siswa. Kompetensi yang selama ini dipelajari di bengkel TKR diterapkan untuk menghasilkan sebuah karya yang menjawab kebutuhan di lingkungan sekitar.
Desainnya dibuat ringan dan portable, sehingga lebih mudah dibawa dan digunakan. Proses pembuatannya juga menjadi pembelajaran langsung bagi siswa, mulai dari mengenali kebutuhan, menentukan komponen, merancang, merakit hingga melakukan uji coba.
Kepala SMKN Senduro Muhammad Zainul menyebut FOPPO merupakan bukti bahwa kreativitas siswa harus terus diberi ruang.
“Ini karya anak kita, khususnya jurusan TKR. Sudah diuji coba. Ini menjadi inspirasi bahwa kita harus selalu beradaptasi dengan teknologi untuk kepentingan masyarakat. Di samping akademik, inovasi menjadi kewajiban di SMKN Senduro,” katanya.
Menurut Zainul, sekolah tidak cukup hanya mencetak siswa yang menguasai teori. Mereka harus diberi kesempatan untuk menemukan persoalan, mencari solusi, kemudian mengubahnya menjadi karya nyata.
Semangat tersebut mendapat apresiasi dari Kacabdin Wilayah Jember Iwan Triyono, SH., MM. saat menghadiri launching FOPPO di SMKN Senduro, Jumat (25/9/2026).
“Luar biasa karyanya. Walaupun SMK-nya ada di lereng Semeru, ternyata mampu melahirkan inovasi yang luar biasa. Ini membuktikan bahwa kondisi geografis bukan penghalang bagi anak-anak SMK untuk berkarya dan beradaptasi dengan teknologi,” ujar Iwan.
Dengan senyum hangat, arek Surabaya itu menyampaikan apresiasinya kepada siswa dan guru yang terlibat. Baginya, FOPPO bukan sekadar alat fogging portable. Lebih dari itu, karya tersebut menunjukkan bahwa inovasi bisa lahir dari mana saja, termasuk dari lereng Semeru.
“Anak-anak SMK harus berani membuat karya. Jangan hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mulai menjadi pencipta solusi,” pesannya.
FOPPO pun menjadi contoh kecil bagaimana pembelajaran vokasi bisa bergerak lebih jauh. Kompetensi TKR tidak berhenti di bengkel, tetapi bisa hadir menjawab kebutuhan masyarakat.
Dari lereng Semeru, pesan itu terasa kuat: SMK bukan hanya siap kerja, tetapi siap berkarya, berinovasi, dan memberi solusi.





